Dua Sisi Kehidupan Gamelan

Sebuah tawaran pengembangan Karawitanologi

Oleh Sularso

Seminar dengan mengangkat tema pendidikan karakter, lokalitas, dan tantangan revolusi industri 4.0 kian popular, ini menandakan, ruang dialektika dengan topik tersebut semakin hangat. Tak heran peneliti dari berbagai disiplin ilmu rajin menelisik persoalan tersebut dalam berbagai perspektif. Mereka berusaha mencari sudut pandang yang berbeda. Lantas bagaimana budaya music memandangnya? Mengenai persoalan ini, saya presentasikan dalam ajang pertemuan intelektual muda Tiongkok tahun 2019 di Nanjing University of the Arts.

Saya menjelaskan, jika persoalan musik bukan hanya soal mengorganisir bunyi ataupun estetika, gamelan turut menyimpan segudang pengetahuan. Pertama, soal teknologi produksi, bagaimana gamelan diproduksi, seperti apa ilmu metalurgi yang digunakan. Kedua, bagaimana gamelan beririsan dengan berbagai macam karya seni, seperti kriya, drama, theatre, dan tari. Ketiga, bagaimana gamelan mengemas pesan simbolik dalam berbagai sajiannya.

Pengetahuan yang melekat pada gamelan adalah fakta intelektual lokal, dan bagi sebagian orang barangkali dipandang sebagai kekuatan vital dalam menjawab tantangan revolusi industri 4.0. Argumentasi senderhana yang saya sampaikan, jika kita memiliki sedikit kekhawatiran mengenai menguatnya sifat individualistik diera digital, maka kita lihat praktik kolektif bermain gamelan. Perilaku individualistis hampir tak bisa hadir. Lihat saja, selama pertunjukan berlangsung, satu pengrawit dengan mudah bisa menggantikan temannya yang sedang isirahat. Praktis tidak ada peluang dalam pertunjukan Gamelan bagi satu individu untuk menjadi “bintang.”, karena gamelan adalah seni yang sangat komunal, sifat individualistik hampir tak bisa tumbuh sumbur di sini.

Gamelan menarik bukan untuk dirinya sendiri, ia berfungsi melihat perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Ia menjadi tanda bagi perubahan masyarakat pemiliknya. Semakain sedikit masyarakat mengenal dan menghayati nilai-nilai gendhing yang terkandung dibalik sajian pertunjukan gamelan, tentu ini menunjukkan cita-cita budaya, dan pandangan hidup masyarakat pemiliknya juga berpeluang, retak dan memudar, tentu ini juga berlaku bagi seni-seni lokal lain yang tersebar diberbagai daerah di Indonesia.

Lantas, bagaimana strategi kebudayaan yang diambil jika melihat gamelan memiliki peluang memudar, di tengah ancaman para empu gamelan yang mulai meninggal satu demi satu? bagaimana sikap kita terhadap pengrajin gamelan? bagaimana cara mendongkrak pasar penyerap produksi gamelan? seberapa kuat daya beli masyarakat, mengingat harganya yang mahal? Pertanyaan tersebut mengajak kita merenung, kira-kira langkah apa yang dapat dilakukan, supaya kehidupan gamelan bukan hanya ramai di wacana keilmuan, namun juga mengalun riuh di kehidupan nyata.

Strategi menjaga kontinuitas pengetahuan produksi gamelan adalah wajib dilakukan, sehingga produksi gamelan dapat terus diciptakan. Mendirikan sekolah kejuruan di bidang organologi akustika gamelan adalah salah satu cara yang dapat ditempuh. Jaminan pemerataan konsumsi gamelan pun perlu diciptakan agar nadi gamelan dapat terus berdenyut.

Diplomasi Gamelan

Harus kita pahami bersama gamelan membangun konstruksi social melalui nilai bunyi. Mengapa? Karena gamelan secara metaforis membuat sketsa atau memberikan gambaran atas sejumlah besar faktor kontekstualisasi simbolik bunyi. Tidak mungkin mendengar gamelan tanpa penggambaran situasi atas atmosfir emosional kesatuan bunyi. Mungkin, kita tidak harus selalu sadar atas penggambaran tersebut, namun sebagai makhluk kognitif, proses penggambaran akan selalu terjadi dalam pikiran kita, karena proses tersebut adalah bagian integral dari pengalaman mendengarkan.

Dalam paparan ini, perlu saya sampaikan jika percepatan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pemanfaatan gamelan sebagai sarana pendidikan karakter harus dapat beriringan dengan percepatan perkembangan gamelan di panggung pertunjukan musik dunia.

Bagaimanapun saat ini budaya gamelan sudah melakukan loncatan jauh ke depan. Perkembangan gamelan dalam konsep ‘desa global’ telah berhasil melampaui batas geografi budaya, ia menjauh dari Rahim budayanya. Gema gamelan telah mengetarkan sel penjara Inggris, tampil memukau di Katedral Nasional Washington, D.C., mendapatkan apresiasi di Art Center Melbourne, Australia, mengalun indah di The Royal Conservatoire of Scotland.
Kehidupan gamelan dimancanegara menandakan, hubungan antara sebagian besar budaya dunia telah menjadi sangat dekat sehingga interaksi budaya musik sangat terbuka. Potret ini menunjukkan jika kehidupan gamelan dari sisi “orang luar” sangat lincah dalam meneguhkan eksistensinya. Kelincahan ini disumbang pula semangat nasionalisme kebangsaan di bidang kebudayaan oleh komunitas gamelan yang ada di luar negeri.

Ini menjadi tantangan bagi komunitas gamelan untuk dapat saling bertegur sapa, mengunjungi, dan saling berbagi. Bukan hanya dari segi bahasa, tetapi bagaimana cara komunikasi dilakukan, serta tentang apa yang harus disampaikan satu sama lain sebagai dampak menguatnya jejaring budaya. Keberhasilan diplomasi gamelan ini juga dapat dijumpai lewat kebijakan sekolah dan perguruan tinggi di beberapa negara yang membuka kelas gamelan. Bahkan arus masuk mahasiswa asing ke Indonesia yang tertarik belajar gamelan pun cukup baik.

Masuknya gamelan dalam kurikulum sekolah menandakan jika perkembangan ilmu gamelan terus tumbuh. Berbagai perspektif digunakan melihat gamelan, berbagai konsep-konsep tekstual maupun kontekstual pun diajukan dan terus diperdebatkan. Akibat pendekatan lintas disiplin ilmu yang berbeda, membuat percabangan pengetahuan gamelan kian dinamis, gamelan kini tumbuh menjadi satu disiplin ilmu mandiri dengan nama Karawitanologi. Apakah ini adalah hadiah dari revolusi industri 4.0 atau sebaliknya?[]

Komentar Anda
Monggo, disebarkan...