Kajian Musik

Menggali Pengetahuan Dibalik Kesenian Lokal dalam Mencapai Kemandirian Ilmu Seni di Indonesia

Oleh Denis Setiaji

Barat sebagai Poros Ilmu Seni

Tradisi literasi di Indonesia hadir belum lama jika dibandingkan dengan negara-negara barat. Ini lantaran tradisi oral menjadi cara yang digunakan masyarakat terdahulu dalam berkomunikasi atau menyampaikan potret kehidupan kala itu, termasuk di dalamnya adalah pengetahuan. Barat, hingga saat ini masih menjadi rujukan perkembangan ilmu pengetahuan, bahkan diyakini sebagai produk wacana keilmuan yang recommended di kalangan cendekiawan Indonesia. Hukum-hukum, teori, konsep, metode, dan lain lain digunakan Cendekiawan Indonesia sebagai pendekatan dalam mengatasi persoalan. Tidak terkecuali pada bidang seni. Banyak pemikiran para cendekiawan seni barat diadopsi sebagai perangkat lunak untuk menggali khasanah keilmuan seni nusantara.

Berbagai fenomena seni banyak diulas cendekiawan seni Indonesia dengan pendekatan barat. Pisau bedah ala barat sangat popular hingga kini karena dipercaya dapat menjawab dan menjelaskan peristiwa artistik dalam kehidupan seni nusantara. Banyak terbit karya-karya cendekiawan seni dalam beragam perspektif, seperti sosiologi, antropologi, psikologi, bahkan terkadang menggunakan piranti ilmu pasti.

Di bidang musik misalnya, banyak hasil pemikiran barat seperti konsep harmoni, kontrapung digunakan sebagai piranti untuk membedah persoalan karawitan. Meskipun pendekatan musikologi ala barat dapat dilakukan, tentu ada beberapa ketidakcocokan ketika masuk tahap analisisi. Pada situasi ini, kesadaran bahwa alam berpikir kehidupan tradisi karawitan berbeda dengan music barat perlu dibangun, sehingga alternatif pendekatan lain dapat diajukan, misalnya etnomusikologi. Pendekatan etnomusikologis yang lebih demokratis, cukup kontekstual jika digunakan membedah fenomena karawitan sebagai pengetahuan.

Contoh lain, dalam seni rupa misalnya, bagaimana estetika seni rupa lokal dikaji menggunakan perspektif estetika barat, tentu kurang tepat. Praktik seperti di atas memperlihatkan adanya kecenderungan cendekiawan seni kita masih ‘addict’ dengan sejumlah paradigma ilmu Barat. Pembongkaran objek seni melalui ilmu pengetahuan di atas sangat mungkin terjadi karena seni dan ilmu seni belum berkembang pesat sebagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi.

Hal ini diterangkan pula oleh Hastanto (2011: 3), menurutnya ilmu pengetahuan telah maju dengan pesatnya sehingga ia mengklaim dirinya dapat menjelaskan segala masalah manusia di dunia ini melalui ilmu pengetahuan. Teknologi demikian pula, sehingga pelajar SMA saja telah mampu merakit robot. Menurut Hastanto, itu merupakan bukti kemajuan teknologi. Disiplin seni justru belum tumbuh dengan baik, ini disayangkan padahal sebenarnya disiplin ini telah ada semenjak seni itu ada.

Pada gilirannya, diharapkan disiplin seni dapat melahirkan ilmu seni, dan persoalan ini menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi para cendekiawan seni untuk melakukan pengembangan hingga menciptakan sebuah “kemandirian”, khususnya ilmu seni yang tersembunyi di balik fenomena estetis kesenian lokal.

Nusantara dalam Kajian Seni

Indonesia yang memiliki tingkat diversitas kesenian tinggi, dan tersebar di seluruh nusantara adalah medan penelitian bagi para cendekiawan seni Indonesia dalam mengungkap kekayaan local genius. Karawitan misalnya, sebagai musik tradisional yang memiliki keragaman dan keunikan masing-masing, seperti Karawitan Sunda, Karawitan Jawa, Karawitan Banyumasan, dan Karawitan Jawa Timuran, adalah fakta budaya musik yang senantiasa hidup dan berkembang di wilayah pulau Jawa hingga kini.

Berbicara pulau Jawa dengan kategori seni musik tradisional pun sangat potensial, terlebih apabila melihat Indonesia secara keseluruhan. Karawitan merupakan salah satu bagian dari rumpun musik tradisional, eksplorasi mestinya mengarah pada rumpun seni lainnya seperti seni rupa murni, kriya, tari, seni pertunjukan dan sejumlah seni lainnya yang menjadi ciri khas setiap daerah. Apabila kajian seni di setiap lokus etnis tersebut berhasil memproduksi konsep seni, baik estetika, metode penciptaan karya, dan atau keilmuan praktis seni, maka bukan tidak mungkin cita-cita Indonesia sebagai negara adi daya budaya akan tercapai.

Untuk menemukan realitas ilmu seni murni, terutama yang terkandung dalam eksistensi kesenian lokal, diperlukan kerja keras, kehati-hatian, kejelian, dan komitmen yang tinggi oleh cendekiawan seni. Karena untuk mendapatkan kemurnian ilmu, penelitian yang dilakukan tidak menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan atau teori-teori yang telah ada. Namun harus menggunakan pendekatan baru yang oleh Hastanto disebut disiplin seni (2011).

Menurut Hastanto, disiplin ini menempatkan seni sebagai subyek bukan sebagai obyek, seperti apabila pengkajian itu menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, kegiatan ini dapat disebut ‘Kajian Seni’ dan bukan “Kajian tentang Seni’ seperti biasanya. Menurut Hastanto, kajian ini tidak menerapkan konsep atau teori yang telah tersedia, karena konsep dan teori itu banyak yang tidak cocok dengan seni. Kajian ini justru langsung menusuk ke lapangan dengan menggali pengetahuan empirik sebanyak-banyaknya dan dari sana akan diperoleh berbagai konsep yang dapat menjadi dasar penyusunan eksplanasi berbagai masalah musik nusantara.

Kajian seni pada hakikatnya ingin mencari sebuah kebenaran realitas di dalam peristiwa seni semurni mungkin. Kajian Seni pada akhirnya juga membongkar seluruh persoalan untuk ditransformasi menjadi sebuah pengetahuan. Menurut Peter (1970), secara filsafati, pengetahuan itu dapat berupa (1) pengetahuan praktis (praktike), (2) pengetahuan produktif (poiteike), dan (3) pengetahuan teoretis (theoretike). Dengan demikian, eksplorasi sejumlah pengetahuan di atas dalam proses kajian seni, tentunya harus dilakukan dan didapatkan melalui pengetahuan dan pemahaman si pemilik kesenian atas realitas eksistensinya, karena seni sebagai subyek, maka seni itu sendiri yang harus “berbicara”. Peneliti hanya membantu merumuskan berbagai embrio pengetahuan yang ada.

Dengan demikian, metode yang digunakan harus mendorong peneliti seni turun dan bersentuhan dengan objek seni secara langsung, mempelajari dan mencermati fakta-fakta objek melalui proses intersubjek peneliti-native. Dengan demikian, kajian yang dilakukan peneliti dapat mendekati dengan realitas dan pandangan masyarakat pemilik kesenian. Dalam tradisi riset metode etnografi dan fenomenologi sangat mungkin digunakan dalam praktik penelitian kajian seni. Diharapkan, metode riset tersebut mampu menawarkan perspektif baru yang lebih segar dalam ranah keilmuan seni.

Gerakan Kajian Seni dan Kearifan Lokal

Tantangan terbesar bagi peneliti kajian seni adalah berhadapan dengan referensi awal sebagai landasan untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Hal tersebut disebabkan budaya non-literate pemiliki kebudayaan. Meskipun demikian, realitas seni dan budaya telah melekat dan menyatu melalui proses embodiment pemilik kebudayaan dari masa ke masa, dari titik itulah peneliti dapat menelisik segenap persoalan sebagai titik awal membuka peluang menemukan pengetahuan. Berbagai pengetahuan tersebut telah ada dan tersedia, tinggal peneliti menggunakan kepekaan teoritisnya untuk menelusuri objek seni secara menyeluruh.

Hal ini diterangkan pula Hastanto (2011), jika disiplin seni telah membuktikan kehebatannya dengan melahirkan berbagai konsep teoritik yang telah menghasilkan sajian serta penciptaan seni yang luar biasa. Menurutnya, bagaimana mungkin seorang seniman mampu memukau dan menakjubkan jutaan manusia lewat karyanya tanpa menggunakan konsep teoritik yang handal. Jadi menurutnya konsep-konsep dalam kesenian hasil kerja disiplin seni itu telah ada. Ratusan bahkan ribuan konsep itu dibangun melalui pengetahuan empirik para empu, namun belum terdokumentasikan secara tertulis.

Beberapa cendekiwan seni, yang mempraktikkan studi disiplin seni adalah Sri Hastanto. Hastanto adalah seorang professor etnomusikologi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Ia telah mengembangkan beberapa konsep estetis yang terdapat pada Karawitan Jawa, di antaranya konsep pathet, konsep embat, dan redefinisi laras slendro. Rahayu Supanggah salah satu guru besar dari ISI Surakarta, juga merumuskan konsep garap yang berhubungan dengan pengetahuan tentang penciptaan sebuah karya gending (lagu) di dalam Karawitan Jawa yang didokumentaskan dalam buku berjudul Bothekan I dan II.

Dalam dunia pewayangan, terdapat Sugeng Nugroho yang telah mengembangkan konsep sanggit di dalam seni pakeliran (wayang), bidang etnomusikologi, Aton Rustandi seorang etnomusikolog asal Subang Jawa Barat,  merumuskan konsep  ramai sebagai sebuah produk nalar di masyarakat, ditambah lagi Zulkarnain Mistortoify seorang etnomusikolog juga merumuskan salah satu konsep musikal dalam seni kejhungan milik masyarakat Madura.

Peneliti barat pun telah melakukan kajian di wilayah Karawitan Jawa seperti konsep rasa yang dirumuskan oleh Marc Benamou lewat disertasi doktoralnya di Universitas Gadjah Mada, kemudian Jaap Kunst, Mantle Hood, dan Judith Becker yang telah melakukan sejumlah riset kajian seni sebelumnya.  Selain itu terdapat pula beberapa ranah kajian seni lainnya seperti seni rupa, tari, kriya, dan sebagainya.

Sejumlah gerakan kajian seni tersebut tidak hanya bertujuan memperkaya disiplin seni, namun menunjukan bagaimana masyarakat nusantara memiliki kecerdasan, kearifan, dan estetika tinggi yang terkandung pada produk budaya masing-masing. Mengingat keragaman kesenian tradisional di Indonesia, memiliki tingkat kerumitan (sophesticated), keindahan (aestetic), dan keunikan (exotic), maka pantas untuk disingkap, agar kecerdasan lokal dapat dikonversi menjadi sebuah pengetahuan dalam disiplin ilmu seni yang bermanfaat.

Apabila aktivitas kajian seni tersebut menjadi sebuah gerakan kebudayaan, maka bukan tidak mungkin  posisi kita dalam persaingan keilmuan seni akan berada di puncak. Dengan demikian, Indonesia dalam disiplin seni akan mampu menjadi sosok yang mandiri karena tidak bergantung dengan karya-karya keilmuan cendekiawan barat. Jika seni sebagai produk budaya selalu diklaim para negarawan sebagai dimensi yang paling bisa membanggakan, pada akhirnya bukan sekedar wacana dan mimpi belaka, bahkan seni dan budaya dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa di tengah kehidupan masyarakat internasional.[]

Komentar Anda
Monggo, disebarkan...